Wednesday, February 27, 2013

Swansea: Kobar Api Kehidupan

London - Dua belas tahun silam, tahun 2001, kami sekeluarga berkunjung ke Swansea, Barat Laut Wales. Kota yang sangat nyaman, indah dan sangat bersahabat. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Tujuan kami sebenarnya adalah Mumbles, sebuah daerah kecil di ujung selatan Teluk Swansea. Kami ingin napak tilas tempat hidup salah seorang penyair terkenal dari Inggris Raya, Dylan Thomas.

Sudah menjadi kebiasaan kami sekeluarga, karena kami semua penggemar bola, untuk setiap kali singgah di sebuah kota di Inggris Raya juga mengunjungi stadion sepakbola kota tersebut. Kalau ada dan layak dikunjungi tentunya.

Stadion klub sepakbola Swansea City FC sebenarnya tidak cukup layak untuk dikunjungi. Bukan untuk mengecilartikan klub ini. Vetch Field hanya berkapasitas untuk 11 ribuan penonton, agak terbengkelai dan layaknya puluhan klub serupa yang bertebaran di Inggris Raya, Swansea bagian dari penggembira sejarah panjang sepakbola di Inggris Raya. Swansea, walau secara geografis bagian dari Wales -- karenanya sebenarnya negara yang berbeda dari Inggris -- juga terpuruk di papan paling bawah dari divisi terendah liga profesional Inggris. Ancamannya saat itu Swansea akan terlempar dari liga profesional ke liga semi profesional.

Belum lagi, tidak seperti klub-klub besar di Inggris, saat itu tidak ada layanan tur stadion. Lha apa yang mau dipamerkan? Stadion "tidak istimewa", tidak ada piala untuk dipamerkan, tidak ada "sejarah luar biasa"’, toko cindera matanya kecil sekali dan hanya buka di hari pertandingan. Kalau kami kemudian berkunjung, itu hanya karena waktu itu ada jam lowong dan stadion hanya lima menit berjalan kaki dari tempat kami menginap.

Karena tidak ada layanan tur, kami hanya berjalan mengitari stadion. Tidak jauh berbeda dengan stadion sepakbola lain di Inggris, Vetch Field dikelilingi oleh perumahan penduduk. Saya samar-samar ingat, tempat masuk khusus pemain, ofisial maupun kalangan VIP ke stadion adalah gang sempit ukuran dua setengah meter di antara deretan rumah penduduk. Beberapa pegawai yang mengurusi stadion menatap kami dengan heran. Mungkin mereka berpikir, kok ya ada wajah asing seperti kami tertarik dengan stadion mereka. Saya sempat menanyakan apakah kami bisa masuk ke stadion untuk melihat kedalam. Mereka mengatakan harus meminta izin terlebih dahulu dengan atasan mereka. Walau mereka sangat ramah, tapi kami merasa terlalu menganggu sehingga memutuskan untuk membatalkannya.

Sejak peristiwa hampir 12 tahun silam itu, kita tahu Swansea telah mengalami kemajuan layaknya mimpi. Dari titik terbawah divisi liga profesional paling bawah mereka merangkak pelan ke papan tengah liga puncak profesional sepakbola Inggris. Naik tiga divisi dan sekitar 80 tangga posisi. Mereka sekarang mapan di sana. Mereka melakukannya dengan permainan yang atraktif. Bukan sekarang saja mereka bermain atraktif, tetapi sudah sejak hampir tujuh tahun silam ketika Roberto Martinez mulai memegang mereka dan diteruskan oleh Paulo Sousa, Brendan Rodgers dan kini Michael Laudrup. Sepertinya ada benang merah yang menghubungkan keempat manajer itu.

Swansea juga telah berpindah ke stadion Liberty yang lebih bagus. Dan setelah menunggu 101 tahun -- klub ini berdiri tahun 1912 --, Swansea untuk pertama kalinya memenangkan piala bergengsi, Piala Liga, setelah minggu lalu (24/2) mengalahkan Bradford 5-0.

Yang lebih hebat lagi, klub ini melakukan semua tanpa harus melewati suntikan dana yang berlebih dari siapapun. Tidak pula tiba-tiba klub ini dibeli oleh orang atau perusahaan super kaya. Tidak ada kamus "lebih besar pasak daripada tiang" di klub ini. Padahal di tahun 2003 mereka sudah di bibir pailit dengan utang hampir 1 juta poundsterling.

Setidaknya ada dua faktor yang sangat membantu klub ini. Seorang direktur yang cakap dan visioner. Juga keberuntungan, seperti halnya Newcastle United, sebagai satu-satunya klub di sebuah kota.

Huw Jenkins dengan dukungan pemegang saham mayoritas klub yang 20 persennya dimiliki oleh pendukung klub dipasrahi untuk mengelola klub pada tahun 2003. Yang ada dalam benak pengusaha lokal Swansea ini adalah memanfaatkan potensi sentimen pasar lokal dengan Swansea menjadi satu-satunya klub di kota itu. Ia lalu mencari manajer yang dianggap bisa memainkan sepakbola atraktif dan ikut aktif dalam transfer pemain yang dianggap bisa memainkan ide sang manajer, tetapi tersedia dengan harga murah. Ia juga mulai memikirkan pemindahan stadion ke yang lebih representatif. Revolusi pun dimulai.

Jenkins menggantungkan mimpinya setinggi langit tetapi melakukannya tidak dengan muluk-muluk. Ia melakukannya pelan-pelan. Ia sangat sabar dan penuh kewajaran. Target pertama adalah Swansea aman terlebih dahulu di liga profesional Inggris. Itu saja. Setelah stabilitas tercapai barulah target meniti tangga divisi dilakukan.

Dengan permainan yang menarik, penonton mulai kembali bahkan bertambah memenuhi stadion. Jenkins tidak bernafsu untuk membangun super besar. Cukup sesuai kebutuhan dan kemampuan kantong. Dengan 20 ribu tempat duduk sudah cukup. Kini, seiring dengan peningkatan kebutuhan, semakin banyaknya pendukung dan pemasukan dari uang TV yang meningkat sejak terutama di Liga Utama, stadion akan diperbesar menjadi 30 ribu tempat duduk. Produksi cindera mata dinaikkan dan laku. Laporan keuangan terbaru untuk tahun 2011/2012 menyebut keuntungan 14 juta poundsterling. Dan dengan kemenangan Piala Liga dan tahun depan berkompetisi di Liga Europa, hampir dipastikan keuntungan akan meningkat.

Swansea juga sangat setia dengan pemain-pemainnya. Mereka tidak begitu saja membuang pemain yang telah bersama mereka sejak di divisi bawah. Kecenderungan klub yang promosi naik ke divisi di atas mereka adalah membuang pemain lama dan membeli pemain baru yang dianggap lebih bagus. Beberapa pemain Swansea seperti Garry Monk, Leon Britton, Angel Rangel sudah bersama mereka sejak di divisi terbawah dan masih menjadi pemain utama. Mereka memasukkan pemain-pemain baru bagus dengan harga yang sangat murah, lalu menjual pemain yang memang ingin pindah dengan harga yang mahal. Semuanya dilakukan dengan pelan-pelan dan penuh perhitungan.

Tak ayal kalau Paulo Sousa, mantan manajer Swansea yang digantikan Brendan Rodgers, menyebut Jenkins adalah tonggak utama kesuksesan Swansea. Dan tak heran, "kalau tidak ada Huw Jenkins, klub Swansea kemungkinan kini tinggal nama," kata seorang pendukung Swansea tak habis-habisnya bersyukur.

Saya jadi teringat ketika waktu itu sehabis maghrib, berdiri di pantai Mumbles dengan selimut kegelapan. Hawa laut mulai terasa dingin. Saya mencoba menghayati salah satu puisi paling terkenal Dylan Thomas: Do Not Go Gentle Into That Good Night, yang saya terjemahkan sendiri menjadi "Jangan Pasrah Kepada Malam Melenakan". Konon sewaktu Thomas melihat ayahnya mendekati sakaratul maut ia menulis puisi ini untuk mendorong ayahnya agar bertahan hidup. Salah satu baitnya berbunyi: Rage, rage against the dying of the light (Lawan, geramlah melawan api yang hendak padam). Huw Jenkins melakukannya ketika api kehidupan Swansea hendak padam.

0 comments:

Post a Comment